April 14, 2013

Lowongan Kerja Solo April 2013 Terbaru

Lowongan Kerja Solo April 2013 Terbaru – lowongan kerja terbaru april 2013, update lowongan kerja april 2013, lowongan kerja Kota Solo April 2013. Berikut Lowongan Kerja Terbaru Solo April 2013 Selengkapnya..

Lowongan Kerja Solo April 2013 Terbaru

PT Enseval Putera Megatrading Tbk

..... KESEMPATAN BERKARIR .....

PT. Enseval Putera Megatrading, Tbk.merupakan salah satu distributor consumer dan farmasi terbesar di Indonesia yang mempu menjangkau seluruh pelosok nusantara dengan 42 cabang kami. Selain produk-produk consumer & farmasi, kami juga menyalurkan produk-produk nutrisi, kesehatan masyarakat, kosmetik, peralatan medis, diagnosi dan bahan baku.

Sejalan dengan perkembangan dan strategi bisnis di masa mendatang, kami mengundang individu –individu yang berpotensi dan bersemangat tinggi untuk menjadi bagian dari “winning team” kami melalui posisi :

Salesman (Kode-SLM) - Solo (SLO)
Jawa Tengah - Solo

Requirements:

Usia mak 32 tahun
Pendidikan minimal Diploma/S1
Dapat mengendarai motor dan memiliki SIM C
Memiliki pengalaman memasarkan suatu produk merupakan nilai tambah
Kemampuan komunikasi/ persuasif yang baik dan gigih

Bagi yang tertantang untuk mengembangkan diri, kirimkan lamaran lengkap beserta pas foto terbaru (size: 3x4) dengan mencantumkan Kode JABATAN dan Kode WILAYAH PENEMPATAN pada Subjek Email atau Pojok Kanan Atas Amplop, Contoh: (FSS-JKT), paling lambat 1 minggu setelah iklan ditayangkan ke:

PT Enseval Putera Megatrading Tbk
Jl Pulo Lentut 10 Kawasan Industri Pulogadung
Jakarta Timur 13920
Up. Recuitment & Assessment Dept

Email: recruitment@enseval.com
dengan mencantumkan kode cabang dan kode posisi.

“Seluruh proses seleksi akan dilakukan di Cabang terdekat dan hanya kandidat yang memenuhi syarat yang akan diproses”.

Closing Date:12-05-13

===================================

PT Agansa Primatama

One of the leading and growing companies for textile machinery, parts, accessories and yarn & fabric supplier in Indonesia as is currently searching for high talented and motivated individual to be part in our expanding business.

Marketing and Development Solo (MDS)
Surakarta (Jawa Tengah) - Jl. Mayor Sunaryo

Responsibilities:

Expanding sales network throughout Middle and East Java Area
Maintain Existing Customers

Requirements:

Candidate must possess at least a Diploma, Bachelor's Degree, Engineering (Industrial), Engineering (Textile), Business Studies/Administration/Management, Marketing or equivalent.
Written and Spoken English is a must
Fresh graduate are welcome for this position, but working experience in the related field is an advantage.
Applicants must be willing to work in Solo
Willing to learn and work hard
Communicative and can do personality

We offer an attractive package for those who meet our requirements
Please submit your comprehensive resume and recent photograph with code of the position applied as the subject to :
hrd@agansa.com

Closing Date:2-5-13

==================================

Sekian Informasi "LOWONGAN KERJA SOLO" yang dapat kami sampaikan, semoga dapat membantu Anda dalam mencari pekerjaan di Kota Solo dan sekitarnya untuk bulan April 2013.

Info Lowongan Kerja Gorontalo April 2013

Info Lowongan Kerja Gorontalo April 2013 – lowongan kerja terbaru april 2013, update lowongan kerja april 2013, lowongan kerja Kota Gorontalo April 2013. Berikut Lowongan Kerja Terbaru Gorontalo April 2013 Selengkapnya..

Info Lowongan Kerja Gorontalo April 2013

PT Matahari Department Store Tbk

PT. Matahari Department Store Tbk. is a leading retail company with more than 100 stores all over Indonesia. We have vision to be Consumers’ Most Preferred Retailer, and our mission is to consistently bring value fashion-right products and services that enhance the customers’ quality of lifestyle.

Due to our aggressive business expansion, we are looking for qualified & dynamic talents to join our success team for the following position:

Store Supervisor - Gorontalo
Gorontalo

Responsibilities:

You will be responsible for achievement of sales target, analyzing productivity per brand, managing inventory & shrinkage, lead sales associate team & develop their skills.

Requirements:

Male / Female, maximum 28 years old. Minimum Bachelor Degree from reputable University, GPA ≥ 2,75. (Diploma degree with experience are welcome).
Bachelor Degree in any Dicipline
Experience in the same field would be preferable
Strong & leadership potential, Strong analytical, and interpersonal skill
Not color-blind, and willing to work in shift
Vacancies: Gorontalo

If you’re match with the qualifications & ready for the challenges, turn yourself in !!!

hrd.mds@matahari.co.id

Closing Date:08-05-13

======================================

PT Bukit Berlian Plantations

..... URGENTLY REQUIRED .....


Kami adalah perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit, dengan wilayah operasional di daerah Sulawesi. Karena pertumbuhan yang pesat di perusahaan kami, kami mengundang saudara/i berkompeten untuk bergabung dengan kami dengan posisi sebagai berikut :

Kepala Tata Usaha (KTU)
Sulawesi Tengah, Gorontalo

Requirements:

Pendidikan Min D3 / S1 (semua jurusan)
Usia maksimal 35 tahun
Memiliki pengalaman min 3 tahun sebagai KTU di perusahaan perkebunan kelapa sawit
Memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan interpersonal yang baik
Teliti, jujur dan mampu bekerja dibawah tekanan
Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah operasional perkebunan
Lebih diutamakan yg berdomisili sekitaran di Sulawesi

Apply langsung pada halaman ini atau kirimkan CV lengkap terbaru ke email recruit.ptbbp@gmail.com dengan posisi dilamar sebagai subjek email dan file tidak lebih besar dari 2MB.

Hanya pelamar memenuhi kriteria yang akan diproses lebih lanjut.

Closing Date:3-5-13

===================================

PT Aventis Pharma

Sanofi is a global and diversified healthcare company focused on patients’ needs with 110.000 employees from 100 countries in the world which listed in Paris, French.

We would like to invite the potential candidateto develop career within Sanofi Group Indonesia :

Medical Representative
Aceh, Bali, Bengkulu, Jakarta Raya, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Yogyakarta, Bangka Belitung, Banten, Gorontalo, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat

Requirements:

Pria/Wanita, usia maksimal 28 tahun
Berpenampilan menarik
Pendidikan D3/S1 jurusan Farmasi, Biologi, Kimia, Keperawatan, Kedokteran dan llmu Eksak (IPA) dengan IPK min. 2.75
Memiliki SIM C
Freshgraduate atau yang berpengalaman sebagai MR/Sales, min. 1 tahun di bidang Farmasi atau Consumer Goods
Bersedia untuk ditempatkan di seluruh Indonesia
Lebih diutamakan bagi yang memiliki sertifikat PEDFI
Menyukai tantangan dan pekerjaan lapangan

Kirimkan resume lengkap Anda ke :

malsahaura.arrasuli@sanofi.com

Kunjungi website kami di :
www.sanofi.co.id

Closing Date:27-4-13

====================================

Sekian Informasi "LOWONGAN KERJA GORONTALO" yang dapat kami sampaikan, semoga dapat membantu Anda dalam mencari pekerjaan di Kota Gorontalo dan sekitarnya untuk bulan April 2013.

Kumpulan Cerpen (Sepatu)

Kumpulan Cerpen (Sepatu) - Koleksi Cerpen, Cerpen Romantis dan Cerpen Klasik. Cerita kreativitas anak muda, berikut kumpulan Kumpulan Cerpen terbaru selengkapnya dari Info Harian Terbaru...

Kumpulan Cerpen (Sepatu)

Sudah satu minggu rumah begitu sepi. Tak ada suara orang berbincang, tak ada suara televisi atau radio dinyalakan. Sepanjang waktu, dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hingga pagi lagi, yang terasa hanyalah dingin. Dan semakin dingin. Tak ada lagi kehangatan barang seteguk. Wangi aroma racikan bumbu yang dulu selalu tercium dari dapur di kala pagi kini telah sirna. Kata-kata rayuan untuk sarapan, apalagi.

Senandung lagu-lagu cinta disela gemericik air senyap sudah. Tiada lagi terdengar riuhnya canda tawa. Semua lenyap tertelan derasnya ombak kehidupan. Yang tinggal hanyalah derit pintu, mempersilakan nyonya rumah untuk keluar di kala pagi. Kemudian diam, menanti waktu hingga sang nyonya kembali di kala hari telah larut.

Rumah itu tak lagi seperti rumah pada umumnya. Bahkan penampilannya pun layaknya rumah tak berpenghuni. Debu tebal dimana-mana, pohon perindang di depan rumah yang tak terawat mulai mengering. Daunnya berserakan memenuhi halaman. Mungkin si pemilik rumah terlalu sibuk, tak punya waktu untuk urusan yang demikian.

Hampir bersamaan dengan kepergian Dina untuk KKN di Blora, kira-kira lima pekan yang lalu, Wening semakin giat memberikan ceramah kepada Sabar. Kepergian putri semata wayang mereka laksana sebuah kesempatan emas bagi Wening. Setiap sore setelah pulang kerja, ada saja tema untuk mengkhotbahi suaminya yang ia sebut sebagai pria tak bertanggung jawab itu. Semangatnya begitu menggebu-gebu. Kadang ia juga begitu ringan mengangkat telunjuknya untuk menuding muka Sabar di sela rentetan kalimat yang amat pedas itu.

Pagi ini di kantor, Wening terlihat begitu serius. Tangannya memegang sebuah benda. Matanya begitu teliti mengamat-amati benda itu. Benda yang sangat istimewa, salah satu pemberian Sabar dikala mereka menikah dulu. Benda yang sempat ia simpan selama dua puluh tiga tahun. Benda itu masih utuh, masih mulus. Warnanya pun masih sama seperti dulu di saat ia membukanya dari dalam kotak bingkisan berwarna merah jambu. Benda yang selalu rela diinjak-injak untuk melindungi tuannya. Benda yang sarat akan makna: sepatu.

Tadi, tergesa-gesa melangkah karena dipanggil atasan, Wening sempat hampir jatuh karena sepatu dengan hak setinggi lima belas centi yang dipakainya itu. Spontan, ia duduk di kursinya, mengusap-usap kakinya yang terkilir dengan balsam dan melepas sepatu itu. Ia taruh begitu saja sepatu itu di atas meja. Tiba-tiba bak kaset film yang diputar ulang, dalam otaknya mengalir deras ingatan tentang pesan yang tersimpan di balik sepatu dengan warna favoritnya: warna ungu.

Begitu jelas tergambar di dalam ingatan, bagaimana dulu ketika ia duduk bersanding bersama Sabar, untuk mengucapkan janji setia untuk saling menerima di dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, hingga maut memisah raga. Saat itu Wening begitu lantang mengucap janji sucinya.

Khotbah pendeta yang kala itu mengangkat tema Sepatu, seakan didengarnya kembali. Bergema begitu keras di telinganya. Dulu, ia mendapat bekal bagaimana ia harus bisa menjadi Istri: Ingat Suami Terus setiap haRI. Belum lagi bagaimana makna yang terkandung di dalam Sepatu. Pendeta mengatakan, pasangan suami-istri hendaklah seperti sepatu, yang tak pernah sama persis bentuknya, tetapi serasi. Tak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi. Meski tak pernah berjalan bersama, tetapi selalu beriringan. Meski geraknya berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Selalu setara, sederajat, sama tingginya, tidak tinggi sebelah. Dan tak akan memiliki arti lagi jika pasangannya hilang.

Wening mendesah. Di tariknya nafas dalam-dalam. Air matanya tak tertahan. Jawaban “Ya, dengan segenap hati” yang begitu tegas ia sampaikan di depan altar dulu, kini terasa menyiksa batinnya. Sejak Sabar di PHK dua tahun lalu, Wening kehilangan keseimbangan. Ia merasa dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

Mungkin ia merasa jenuh, tertekan. Mungkin juga galau, atau apalah namanya.

Dulu gajinya selalu utuh 100% masuk ke dalam rekening pribadinya. Biaya hidup sehari-hari selalu bersumber dari penghasilan Sabar. Ia tinggal acungkan saja jarinya untuk menunjuk apa yang ia inginkan. Kini setelah Sabar di PHK, Sabar seperti menghambur-hamburkan uang. Usahanya untuk berwiraswasta selalu merugi. Dari bertani jamur hingga membuka usaha laundry, belum pernah berhasil. Mungkin karena ketatnya persaingan, atau mungkin juga belum rejeki. Yang jelas, Sabar tak pernah menganggapnya sebagai takdir. Terakhir, Sabar mencoba beternak itik. Sayang usahanya kali ini pun tak begitu menjanjikan, meski masih terus ia perjuangkan. Malang, pekerjaan ini bagi Wening dianggap begitu jorok. Membuatnya turun prestise di kampus. Bagaimana mungkin seorang pembantu rektor bersuamikan peternak itik? Apa kata mahasiswanya jika mereka tahu!

Tiga bulan berlalu, keadaan belum membaik. Semakin parah bahkan. Sore itu, tak disangka Pendeta bertandang kerumahnya. Menanyakan kabar, yang dijawab dengan begitu terbuka oleh Wening. Ia sampaikan segala isi hatinya.

“Sudah hampir dua puluh lima tahun saya memendam rasa ini!”

“Apakah Ibu sudah berusaha memaafkan kesalahan suami Ibu?”

“Ya, saya memaafkan. Dengan tulus saya maafkan. Tetapi saya sudah tidak tahan. Sudah hampir dua puluh lima tahun Pak!”

Pendeta itu dibuatnya bingung. Tak mengerti maksud kata-kata Wening. Bagaimana ia bisa mengatakan kesalahan Sabar telah ia maafkan jika ia memendam kepahitan itu? Bagaimana ia bisa mengatakan telah memaafkan tetapi tak pernah melupakan kesalahan-kesalahan Sabar yang tampak sepele? Kata-kata “hampir dua puluh lima tahun” selalu ia bawa. Apakah sepanjang kehidupan rumah tangganya ia tak pernah mencintai suaminya? Tak pernah merasa bahagia? Atau mungkin hanya karena ia kurang bersyukur?

Seperti kentang yang terus ditimbun ke dalam karung. Setiap Sabar melakukan sesuatu yang dianggap salah, Wening menambahkannya ke dalam daftar timbunan kesalahan Sabar. Yang pada akhirnya membusuk, berbau dan menjadi beban berat bagi dirinya sendiri.

Suasana menjadi beku. Kaku. Semua diam. Sesekali Sabar melirik istrinya. Wening masih terlihat garang, merah membara.

“Dina belum pulang?” Pendeta mengalihkan pembicaraan, mencairkan kebekuan.

“Wah...pulang malam itu biasa Pak, bagi Dina. Bahkan kadang sering tidak pulang.” Papar Sabar terang-terangan.

Ya, sejak Dina mencium aroma konflik antara ayah dan ibunya, ia sering menjadikan skripsinya sebagai alasan untuk pulang malam, bahkan tidak pulang ke rumah. Sebenarnya Ia merasa tersiksa dengan sikap ibunya yang terus-menerus menyulut bara di rumah itu. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menyingkir. Ia kini juga telah berubah. Pembawaannya sedingin salju. Penampilannya lusuh, tak lagi rapi dan ceria seperti dulu.

Waktu terus bergulir. Matahari yang setia menjemput pagi tak mampu memberikan asa baru yang penuh harapan demi datangnya kehangatan cinta. Sabar harus semakin bertambah sabar karena kini Wening tak mengijinkannya tidur di dalam rumah. Teras rumah adalah pilihan kedua setelah dinginnya tempat jemuran di atas rumah tak sanggup ia taklukkan.

Tak mampu lagi ia sembunyikan ketidakharmonisan rumah tangganya di depan tetangga, yang curiga dengan tingkahnya.
“Belum tidur Pak?” tanya Badrun yang kebetulan melintas pada suatu malam.
“Belum, cari angin.”

Siapa percaya dengan omong kosong Sabar? Dinginnya malam menusuk tulang ia kata cari angin?

Sebenarnya Wening telah beberapa kali mengusir Sabar. Tetapi Sabar tak bergeming. Ia tak mau meruntuhkan rumah tangganya begitu saja. Di dalam benaknya, ia berharap agar suatu saat bisa kembali rukun dengan istrinya. Walau mungkin lebih tepatnya ia masih sabar menunggu sampai istrinya mereda. Meskipun dirinya tak pernah tahu entah kapan itu bisa terwujud.

“Apa yang kau tunggu? Angkat kaki dari rumah ini atau aku tusukkan juga pisau ini ke tubuhku!” ancam Wening suatu ketika

Kejadian itu semakin memperkeruh suasana. Hampir satu minggu Dina tak pulang. Apa yang telah ia saksikan di rumahnya sendiri terasa lebih mengerikan dari film horor yang pernah ia tonton di sepanjang hidupnya.

“Apa yang harus saya perbuat Pak? Saya tidak mau keluarga saya hancur hanya karena tingkah istri saya. Apakah saya salah jika memiliki usaha ternak itik? Apakah itu terlalu menjijikkan? Jorok? Hina? Selama ini saya juga berusaha menggantikan tugas istri saya mengatur rumah tangga. Mungkin memang sedikit aneh karena tugas kami seperti tertukar. Tetapi lihat sekarang! Sejak saya tak boleh masuk ke dalam rumah, bahkan tak boleh menyentuh perabotan di dalam rumah. Rumah tak lagi terurus, cucian menumpuk, debu dimana-mana, tak layak tempat tinggal itu di sebut sebagai rumah. Bahkan yang paling parah, sekarang anak kami satu-satunya, Dina, tak lagi tinggal bersama kami, entah dimana dia. Saya coba menghubungi nomor HPnya, saya cari dia ke rumah teman-temannya, saya tunggu dia di depan kampusnya, tetapi hasilnya nihil. Apa yang mesti saya perbuat Pak? Pasrah saya, pasrah...” Sabar mencurahkan isi hatinya kepada Pendeta.

“Tetaplah mengasihi dengan sabar, dan tetaplah berdoa” hanya itu pesan Pendeta. Singkat, tetapi tak mudah. Sabar diam, dalam hati ia berpikir, apa alasan orang tuanya dulu memberinya nama Sabar? Apakah memang untuk menanggung beban berat seperti yang ia terima sekarang?

Memaafkan dan melupakan setiap kesalahan yang dilakukan Wening, seakan harus menjadi menu wajib Sabar setiap hari. Bertemu tetapi tak ada senyuman, tatapan kasih, apalagi sapaan. Kadang Sabar merasa sangat disepelekan, direndahkan. Pepatah 'tak ada uang abang dibuang' adalah ungkapan yang sangat cocok untuk disandangnya sebagai gelar.

Sore hari, Wening pulang lebih awal dari biasanya. Sesuatu yang sangat tidak lazim. Apalagi ia terlihat begitu bersemangat untuk menemui lelaki lima puluh tahun yang masih sah sebagai suaminya itu. Wening menyapa Sabar dengan nada yang begitu lembut, dengan senyum simpul dibibir merahnya. Tanpa amarah. Akh... mungkinkah tirai mulai terbuka???

Mungkinkah sepatu pemberian Sabar berhasil mengingatkan Wening akan janji sucinya terhadap pernikahan yang telah ia sepakati tanpa paksaan di kala itu? Apakah Wening akan menggenapi pesan tersirat dari sepatu? Apakah Wening telah meruntuhkan keegoisannya? Atau mungkin ia telah menyadari bagaimana seharusnya ia menerima Sabar apapun dan bagaimanapun keadaannya? Bukankah ia masih sudi mengenakan sepatu pemberian Sabar itu?

Dengan menahan derai air mata Wening menghampiri Sabar dan berlutut didepannya. “Maafkan aku Mas, aku begitu egois. Kebersamaan kita selama ini tak kuanggap. Pengorbanan dan cintamu selama ini aku abaikan. Aku terlalu sibuk mengasihani diriku sendiri, sampai aku lupa segalanya,” aku Wening penuh penyesalan. Ia semakin tertunduk dan semakin membungkuk. Namun belum sampai ia mencium kaki suaminya, Sabar telah lebih dulu menarik bahu Wening, mengajaknya berdiri dan merapatkannya dalam dekapan.

“Disinilah tempatmu, bukan diujung kaki. Karena kamu adalah tulang rusukku, pelindungku,” bisik Sabar diakhiri dengan kecupan di kening Wening. Wening semakin terisak. Ia dekap erat tubuh Sabar sambil membisikkan: “Terima kasih untuk sepatu itu, sepatu itulah yang telah menyadarkanku Mas. Engkau memang begitu sayang padaku. Hanya saja aku yang selama ini tak mempedulikanmu...” “Sstttt... sudah!” Sabar menghentikan Wening. “Yang penting sekarang kita memulai hidup baru dan mengisi hari-hari kita dengan cinta.” “Dan aku mau memperbaharui janji kita supaya kita bisa mewujudkan janji kita untuk sepatu,” sahut Wening sambil menahan isak tangis. “Sejalan Sampai Tua,” ucap Sabar dan Wening bersamaan. Dari kejauhan Dina melihat ayah dan ibunya yang tengah berpelukan. Ia mendekat, namun tetap berusaha agar tak terlihat oleh Sabar dan Wening. Jantungnya berdegup kencang. Matanya basah. Ia berbisik lirih: “Terima kasih, Tuhan. Engkau baik!”

Penulis : Endang Lestari

Nah itu tadi fren "KUMPULAN CERPEN TERBARU" buat edisi selanjutnya nantikan episode selanjutnya yak...